Sejarah Berdiri

Meskipun bahasa Arab telah lama dikenal orang Indonesia, namun pembelajaran dan pengembangan bahasa Arab, seakan-akan jalan di tempat. Karenanya, kebutuhan akan sebuah organisasi profesi yang mengemban tugas untuk meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogik para pengajar bahasa Arab—yang berdasarkan integrasi pengetahuan dan integritas karakter—di Indonesia menjadi suatu kebutuhan yang mendesak. Kesadaran semacam inilah yang banyak muncul di dalam benak—khususnya—para pengajar bahasa Arab di negeri ini selama bertahun-tahun.

Akan tetapi, keinginan dan gagasan untuk membentuk sebuah ikatan atau asosiasi tersebut harus terpendam selama bertahun-tahun. Setidaknya, kesadaran dan keinginan semacam itu telah tampak sejak awal tahun 80-an, khususnya sejak diselenggarakannya Seminar Internasional Pengembangan Bahasa Arab di Indonesia yang diprakarsai oleh Universitas Al-Imam Ibnu Sa’ud pada tahun 1982 di Jakarta dan dalam beberapa kali kegiatan seminar bahasa Arab sesudah itu, baik yang bertaraf nasional maupun regional. Sebenaranya, telah ada beberapa usaha ke arah sana, namun selalu saja ada kendala. Gagasan yang baik itu seringkali mandek ketika dihadapkan pada pertanyaan, ”siapa yang siap menangani dan menekuni organisasi itu?” Karenanya, selama kurang lebih dua dasawarsa, gagasan yang mulia itu tetap hanya tinggal sebagai gagasan.

Akan tetapi, sesuai dengan angin segar perubahan, demokrasi, dan peningkatan partisipasi sosial yang menghampiri Indonesia pada akhir 1990-an, tampillah beberapa orang inisiator dari tiga perguruan tinggi mencoba memberanikan diri untuk merintis pendirian asosiasi pengajar bahasa Arab ini. Para inisiator tersebut yaitu Drs. A. Fuad Effendy (pada saat itu menjabat sebagai Dekan FPBS IKIP Malang pada saat itu), Drs. Taufik A. Dardiri, M.S. (pada saat itu menjabat sebagai Dekan Fakultas Adab IAIN SK Yogyakarta), Prof. Dr. St. Chamamah Suratno (pada saat itu menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra UGM Yogyakarta, juga dosen di jurusan bahasa Arab), serta Drs. Syamsul Hadi, M.A. (dosen jurusan Sastra Arab sekaligus Pembantu Dekan III Fakultas Satra UGM Yogyakarta). Pertimbangan keterwakilan—yakni IKIP Malang mewakili PT Kependidikan, UGM Yogyakarta mewakili PT Umum Non-Kependidikan, dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mewakili Perguruan Tinggi Agama Islam—menjadi poin penting di dalam kehadiran para inisiator ini.

Pertemuan pertama kali dilakukan dengan undangan resmi dari Dekan FPBS IKIP Malang dan diselenggarakan pada tanggal 9 Desember 1998 di Malang. Pertemuan ini dihadiri oleh Drs. A. Fuad Effendy, Dr. Taufiq A. Dardiri, dan Dr. Syamsul Hadi. Pertemuan ini menyepakati prakarsa pendirian ikatan pengajar bahasa Arab di Indonesia dan langkah-langkah pokok yang akan diambil. Dalam pertemuan ini disepakati tempat pertemuan berikutnya di UGM Yogyakarta dengan peserta delapan perguruan tinggi di Pulau Jawa.

Pertemuan kedua dilaksanakan pada 22 Maret 1999 di Yogyakarta. Pertemuan ini melibatkan delapan perguruan tinggi dari lima kota di Jawa, yaitu IKIP Malang, UGM Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UI Jakarta, IKIP Jakarta, UNPAD Bandung, IKIP Bandung, dan IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pertemuan di Yogyakarta ini menyepakati (1) nama asosiasi atau ikatan pengajar bahasa Arab di Indonesia ini dalam bahasa Arab yaitu Ittihadul Mudarrisin lil-Lughatil Arabiyah disingkat IMLA; (2) draf Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMLA; (3) penyelenggaran Muktamar I IMLA sekaligus Pertemuan Ilmiah Nasional (PINBA) I di Malang pada bulan September 1999; serta (4) panitia pelaksana Universitas Negeri Malang (yang dalam pelaksanaannya melibatkan juga STAIN Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang).

Merealisasikan amanat pertemuan di Yogyakarta, Muktamar I IMLA sekaligus PINBA I diselenggarakan pada 24–26 September 1999 di Hotel Air Panas Songgoriti, Batu, Malang. Muktamar dan PINBA ini dibuka oleh Dr. Komaruddin Hidayat, Direktur Pembinaan PTAI, mewakili Direktur Jenderal Binbaga Depag. Muktamar pertama ini diikuti oleh 121 peserta yang mewakili 45 perguruan tinggi serta 5 MA/SMA—sesuai dengan draf AD-ART IMLA, anggota IMLA tidak dibatasi hanya pada pengajar bahasa Arab di perguruan tinggi, melainkan juga guru bahasa Arab di pendidikan tingkat menengah dan pesantren. Muktamar ini mendapat dukungan moral dan finansial dari Depag, Depdikbud, Pemda Provinsi Jawa Timur, Pemerinta Kotamadya dan Kabupaten Malang, para rektor perguruan tinggi pemrakarsa dan pelaksana, serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta.

Muktamar I IMLA ini memutuskan empat hal.

  1. mengesahkan AD dan ART IMLA.
  2. menetapkan Program kerja PP IMLA periode 1999–2002.
  3. menetapkan Drs. A. Fuad Effendy sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IMLA periode 1999–2002.
  4. merumuskan rekomendasi muktamar.

Adapun di antara rekomendasi Muktamar I IMLA yaitu

  1. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdiknas hendaknya menempatkan bahasa Arab secara proporsional dalam dokumen ”Politik Bahasa Nasional” sesuai dengan realitas yang ada di tengah masyarakat Indonesia, yaitu di samping sebagai bahasa asing juga sebagai bahasa agama dan budaya Islam;
  2. Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama hendaknya meningkatkan posisi bahasa Arab dalam kurikulum sekolah dan madrasah. Hal penting dan harus segera ditindaklanjuti adalah menyampaikan pokok-pokok pikiran kepada Pusat Bahasa Depdikbud agar bahasa Arab diletakkan pada proporsi yang selayaknya dalam Politik Bahasa Nasional.

Dua rekomendasi tersebut segera ditindaklanjuti oleh PP IMLA dan disampaikan dalam Seminar Politik Bahasa Nasional pada 8–12 November 1999. Atas dukungan dari Rektor IKIP Malang, Prof. Dr. Nuril Huda, M.A., yang menjadi salah seorang pembicara utama dalam seminar tersebut, pokok-pokok pikiran IMLA banyak yang masuk di dalam rumusan hasil seminar berupa ”Kebijakan Bahasa Nasional (KBN) Tahun 1999”.


Organisasi profesi pengajar bahasa Arab, pertama kali dirintis pada tanggal 9 Desember tahun 1998 dalam pertemuan yang diadakan di Universitas Negeri Malang. Pertemuan tersebut dihadiri oleh utusan dari Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Fakultas Sastra UGM Yogyakarta.
  • 9 Desember 1998Pertemuan Perintis

    Universitas Negeri Malang - Pertemuan dihadiri oleh utusan dari Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Fakultas Sastra UGM Yogyakarta.
  • 25 April 1999Rancangan AD/ART Organisasi

    UGM Yogyakarta - Dihadiri oleh oleh delapan perguruan tinggi dari lima kota besar di Pulau Jawa, yaitu UGM, IAIN Sunan Kalijaga, Universitas Negeri Malang, Universitas Padjajaran, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, IAIN Sunan Gunungjati, dan IAIN Sunan Ampel. Dalam pertemuan ini dihasilkan rancangan AD/ART organisasi, dan disepakati penyelenggaraan Muktamar I di Jawa Timur pada bulan September 1999.
  • 25 September 1999Deklarasi IMLA

    Batu, Malang - Dihadiri oleh 120 peserta yang merupakan utusan dari 46 perguruan tinggi. Di dalam muktamar inilah secara resmi dideklarasikan berdirinya Ittihadil Mudarrisin Lil-Lughah Al-Arabiyah disingkat IMLA. Di samping itu, muktamar inipun menetapkan AD/ART organisasi, program kerja, rekomendasi muktamar dan pengurus pusat IMLA priode 1999-2003.
  • 23-25 September 1999Muktamar Ke-1

    Batu, Malang - Menghasilkan kepengurusan IMLA periode 1999-2003 di bawah pimpinan Drs. M. Fuad Effendi (Universitas Negeri Malang) dan AD/ART IMLA.
  • 4-6 September 2003Muktamar Ke-2

    Jakarta - Dibuka oleh Wakil Presiden RI Hamzah Haz, diikuti oleh 122 utusan dari 51 perguruan tinggi. Menghasilkan kepengurusan IMLA periode 2003-2007 di bawah pimpinan Dr. Moh. Luthfi Zuhdi (Universitas Indonesia) dan perubahan AD/ART organisasi.
  • 23-25 Agustus 2007Muktamar Ke-3

    Bandung - Menghasilkan kepengurusan periode 2007-2011 di bawah pimpinan Prof. Dr. Syamsul Hadi (Universitas Gajah Mada), dan perubahan AD/ART organisasi.